Lompat ke konten
Home » #SelasaKarsa: Memaknai Sejarah dan Semangat Puputan dalam Bermasyarakat

#SelasaKarsa: Memaknai Sejarah dan Semangat Puputan dalam Bermasyarakat

#SemetonBGPBali,

Bali memiliki sejarah perjuangan rakyat nan heroik dan dramatis. Rakyat Bali merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang dikenal sebagai Perang Puputan.

Perang Puputan Badung menjadi peristiwa bersejarah sebagai tonggak perlawanan terhadap sistem kolonialisme yang tumbuh di Bali. Perang sebenarnya berlangsung mulai 1902 hingga puput di tahun 1906. Kala itu, Pemerintah Hindia Belanda berpendapat dengan dikuasainya Kerajaan Badung maka setara dengan menguasai Pulau Bali secara keseluruhan.Meski jumlah prajurit kerajaan dan lawan tak seimbang, Raja Badung yang memerintah saat itu, I Gusti Ngurah Made Agung, bersama rakyat tak gentar melawan kolonial.

Semangat puputan pun berkobar. Gugur membela kebenaran dan kehormatan negara adalah surga bagi mereka. Meski hanya dengan senjata tradisional, rakyat bersama melawan militer Belanda yang dilengkapi senjata modern. Raja Badung ke-7 yang memimpin sendiri perang sejak 1902 hingga 1906. Ia pun gugur bersama rakyat. Sejak itu setiap 20 September menjadi peringatan Hari Puputan Badung yang memberikan pesan bahwa masyarakat saat itu melakukan perlawanan terhadap ekspedisi militer pemerintah kolonial Belanda V di Badung. Puputan berarti bentuk reaksi terhadap intervensi penguasa Belanda terhadap kedaulatan masyarakat Badung. Bagi masyarakat Bali, puputan sebagai aktualisasi nilai-nilai luhur ksatria yang rela berkorban demi kedaulatan dan keutuhan negeri (Nindihin Gumi Lan Swadharmaning Negara) serta membela kebenaran dan keadilan (Nindihin Kepatutan) sampai tetes darah terakhir.

Sebagai pengingat sejarah, pemerintah pada 12 November 1997, mendirikan Monumen Puputan Badung. Monumen ini berupa tiga patung, terdiri dari perempuan, laki-laki, dan anak dengan pakaian serba putih memegang keris dan tombak sebagai senjata untuk berperang. Bersamaan itu, terbitlah Surat Keputusan Wali Kota Denpasar Tahun 2009, lapangan pun resmi dinamakan Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung. Warga biasa menyebutnya Lapangan Puputan Badung. Begitulah sejarah singkat lapangan ini.

Puputan bukanlah refleksi keputusasaan melainkan sebagai fakta sejarah yang terjadi pada 20 September 1906 yang tak terbantahkan tentang jiwa kepahlawanan dan kemanunggalan raja dan rakyat Bali. Hal tersebut berdasarkan bukti-bukti historis yang ada, jelas bahwa para raja dan rakyatnya betul-betul tulus ikhlas dan berani (lascarya) melakukan perlawanan sebagai bentuk keputusan bersama dalam mempertahankan kedaulatannya dari Belanda.

Fakta sejarah ini akan tetap abadi tidak saja dalam catatan sejarah perjalanan negeri ini, namun juga dalam hati sanubari masyarakat Indonesia. Perang yang menelan 7000 korban jiwa tersebut patut menjadi suri teladan bagi seluruh insan tanah air agar senantiasa berjuang melunasi janji kemerdekaan Republik Indonesia. Perjuangan untuk tersebut tak hanya soal fisik saja, tak harus mengangkat senjata tapi dengan berbagai bentuk aktualisasi masa depan. Pasca kemerdekaan, tumbuh keberagaman dalam masyarakat yang menimbulkan perpecahan. Hal tersebut juga mempengaruhi bagaimana sikap dan karakter antar manusia dalam bermasyarakat. Sesuai dengan Nawacita Presiden Jokowi, yang salah satunya untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang berkebinekaan global, seyogyanya, perbedaan ras, suku, agama, dan latar belakang, bukan menjadi pemicu ketegangan, melainkan menjadi kekayaan dan identitas atau jati diri sebagai masyarakat Indonesia.

Nilai-nilai luhur yang dapat dipetik dari perjalanan sejarah Puputan Badung diharapkan menjadi nilai budaya positif yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam segala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di bidang pendidikan. Melalui pendidikan, diharapkan terdidiknya masyarakat yang sarat akan keindonesiaan yang adaptif dan toleran. Dari sisi historis, Puputan Badung dapat dimaknai pula sebagai arti kesetiakawanan, pengabdian, dan daya juang untuk menggapai cita-cita menjadikan kemerdekaan hadir dalam setiap sudut kehidupan bangsa.


Sumber :

  1. https://badungkab.go.id/kab/sejarah
  2. https://www.kemdikbud.go.id/main/tentang-kemdikbud/
  3. https://denpasartourism.com/destination/puputan-badung

#SelasaKarsa #BGPProvinsiBali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Daftar Bandar Togel Slot Online Terpercaya 2022

togel online

bandar togel

situs togel online

10 Daftar Situs Slot Terpercaya Dijamin VIP

online togel

judi togel online

situs slot online

slot online

togel terpercaya di batam

heromedia

Togel Online Terlengkap dan Terpercaya 2022

togel online

online togel

www togel online com

togel online terpercaya

daftar togel online terpercaya

daftar togel online